Asal Mula Hari Bakcang

Posted by on Jun 6, 2011

BakcangHari raya Bakcang atau Duan Wu Jie di rayakan untuk memperingati seorang penyair besar di negeri China yang bernama Cu Yuan. Cu Yuan memiliki pendidikan tinggi, ahli politik ternama, dan merupakan seorang menteri di Kerajaan Chu.

Chu merupakan kerajaan di China bagian selatan, kekuatannya tidak sekuat Qin Guo ( Guo bisa berarti negara atau kerajaan), sebuah kerajaan di China bagian Utara. Karena itu, Qin Guo sering sekali mencari gara-gara terhadap kerajaan Chu. Cu Yuan adalah orang yang begitu mencintai negerinya sendiri dan ia juga tidak suka Qin Guo mengganggu kerajaan lain.

Cu Yuan berpikir keras untuk menghentikan Qin Guo agar tidak terus menekan dan mengganggu ketenteraman kerajaan lain. Cu Yuan mendapat ide, yakni bernegosiasi dengan Rajanya, Chu Huai, untuk bisa menjalin kerja sama dengan kerajaan lainnya. Pada mulanya mereka dapat bekerja sama dengan baik, namun belakangan beberapa menteri kepercayaan Raja Chu Huai menerima uang suap dari Qin Guo.

Para Menteri penerima uap berusaha merayu Raja agar menhentikan usaha melawan Qin Guo dan mereka memfitnah Cu Yuan. Perlahan namun pasti, Raja Chu Huai terpengaruh oleh ucapan para menteri tersebut dan sang Raja mulai tidak percaya pada Cu Yuan. Raja bukan hanya tidak percaya pada Cu Yuan, tetapi juga tidak peduli lagi akan apa yang Cu Yuan usahakan. Raja ingin bisa berdamai dengan Qin Guo, bahkan cita-citanya bisa jadi sahabat baiknya Raja Qin Guo.

Waktu Raja Chu Huai berkunjung ke Qin Guo atas pengaruh para menteri penerima suap, ia kemudian ditangkap dan dipaksa oleh Raja Qin Guo untuk menyerahkan wilayah kekuasaannya. Waktu itu Raja Chu Hui baru sadar bahwa ia telah ditipu oleh para menterinya sendiri dan telah salah karena tidak mendengarkan Cu Yuan, penasihat baiknya. Tidak lama kemudian Raja Chu Huai pun mangkat.

Putranya, Qing Xiang kemudian menjadi raja Chu Guo. Tetapi Qing Xiang tidak peduli akan penasihat kerajaan, ia juga tidak peduli untuk membagun negaranya. Raja Qing Xiang setiap hari hanya berpesta pora, mabuk oleh minuman keras dan kerajaannya semakin lama semakin penuh dengan masalah berat.

Mengetahui hal ini, Raja Qin Guo menyiapkan bala tentara untuk menyerang Chu Guo dan berharap sesingkat mungkin dapat menguasainya. Raja Qing Xiang tidak peduli sama sekali akan ancaman besar ini. Melihat hal ini, Cu Yuan bertekad untuk pergi menasihati Raja. Dengan penuh keberanian, Cu Yuan berbicara kepada raja dan hasilnya, Raja bukan hanya tidak mau mendengarkan Cu Yuan, tetapi ia justru menghukum Cu Yuan. Cu Yuan diasingkan ke tempat yang sepi penduduknya dan setelah itu tidak ada lagi orang yang berani menyatakan ketidak-puasannya terhadap Raja.

Pada saat yang telah diperhitungkan, Qin Guo benar-benar menyerang dan dengan mudah menaklukkan Chu Guo. Banyak rakyat yang mati, luka berat, bahkan menjadi cacat. Cu Yuan sangat berduka saat mengetahui berita ini, tetapi semua sudah berakhir, semua sudah tidak ada harapan lagi. Kerajaan Chu sudah porak poranda dan mengenaskan. Pada saat itu, dalam kalender China bulan kelima tanggal lima, sambil memeluk sebuah batu yang besar dan berat, Cu Yuan melompat ke dalam sungai dan mati tenggelam.

Semua rakyat Chu Guo yang masih tersisa sangat sedih dan berduka kehilangan orang baik seperti Cu Yuan. Mereka bependapat, jika Raja Chu Huai mendengarkan nasihat dan strategi yang disampaikan Cu Yuan, ia tidak akan pergi dan mati di Kerajaan Qin Guo. Jika anaknya, Raja Qing Xiang, mendengarkan nasihat Cu Yuan, maka belum tentu akan kalah dan menderita seperti ini. Kini Cu Yuan juga mati karena cintanya yang besar pada Kerajaan Chu.

Rakyat tak kuasa menahan tangis karena dalam kehidupan sehari-hari pun nasihat Cu Yuan sungguh sangat berarti dan berguna bagi mereka. Karena itu, tanpa dikomando, mereka beramai-ramai terjun ke dalam sungai untuk mencari mayat Cu Yuan. Dari pagi hingga petang mereka tidak juga menemukan mayat Cu Yuan. Mereka tidak ingin mayat Cu Yuan dimakan oleh ikan-ikan di sungai. Karena itu, mereka memasak ketan dan dibungkus daun untuk menjad makanan yang disebut zongzi atau bakcang. Mereka membuat bakcang yang banyak dan dibuang ke sungai agar tidak seekor ikan pun yang memakan mayat Cu yuan, orang yang mereka hormati dan kasihi itu.

Sejak saat itu, setiap tanggal lima bulan lima tahun kalender China, orangorang di negeri China akan mengadakan lomba Perahu Naga dan makan bakcang.

Sumber: http://www.panipahan.com/forum/showthread.php?p=15

Asal Mula :Bakcang,Duan Wu Jie

Asal Mula Kertas

Posted by on May 3, 2011

Tsai LunKertas pertama kali diciptakan oleh Tsai Lun, negara Cina, dibuat dari bahan bambu yang mudah didapatkan di Cina pada tahun 101 Masehi. Penemuan ini kemudian menyebar ke Jepang dan Korea seiring dengan menyebarnya bangsa Cina ke timur dan berkembangnya peradaban di kawasan itu, walaupun sebenarnya cara pembuatan kertas pada awalnya merupakan hal yang sangat dirahasiakan.

Teknik pembuatan kertas jatuh ke tangan orang-orang Arab pada masa Abbasiyah setelah kalahnya pasukan Dinasti Tang dalam Pertempuran Sungai Talas pada tahun 751 Masehi. Para tawanan perang mengajarkan cara pembuatan kertas kepada orang-orang arab, sehingga kemudian muncullah industri-industri kertas disana.

Teknik pembuatan kertas kemudian juga menyebar ke Italia dan India lalu Eropa khususnya setelah Perang Salib dan jatuhnya Grenada dari bangsa Moor ke tangan Spanyol dan ke seluruh dunia.

Sumber: http://www.ceritaanak.org/index.php?option=com_content&view=article&id=51:sejarah-kertas&catid=35:asal-usul&Itemid=54

Asal Mula :Tsai Lun,Kertas

Posted in Asal Mula || 1 Comment »

Asal Mula Cheng Beng

Posted by on Apr 4, 2011

Tai ZuHari raya Cheng Beng atau Qingming (Mandarin) merupakan salah satu hari raya dalam tradisi Tionghoa yang di rayakan setiap tanggal 4 atau 5 April. Pada Hari Raya Cheng Beng, masyarakat Tionghoa akan membersihkan makam orang tua atau para leluhurnya, menebarkan kertas diatas makam dan kemudian sembahyang untuk menghormati orang tua dan para leluhurnya.

Berikut merupakan asal mula Hari Raya Cheng Beng:

Diceritakan pada zaman Dinasti Ming ada seorang anak bernama Cu Guan Ciong (Zhu Yuan Zhang, pendiri Dinasti Ming) yang berasal dari sebuah keluarga yang sangat miskin. Dalam membesarkan dan mendidik Cu Guan Ciong, orangtuanya meminta bantuan kepada sebuah kuil.

Semakin dewasa, karma Cu Guan Ciong semakin baik. Sehingga ketika dewasa, Beliau menjadi seorang kaisar. Setelah menjadi kaisar, Cu Guan Ciong kembali ke desa untuk menjumpai orangtuanya. Sesampainya di desa ternyata orangtuanya telah meninggal dunia dan tidak diketahui keberadaan makamnya.

Kemudian untuk mengetahui keberadaan makam orangtuanya, sebagai seorang kaisar, Cu Guan Ciong memberi tintah kepada seluruh rakyatnya untuk melakukan ziarah dan membersihkan makam leluhur mereka masing-masing pada hari yang telah ditentukan (5 April). Selain itu, diperintahkan juga untuk memberikan tanda kertas kuning di atas makam-makam tersebut.

Setelah semua rakyat selesai berizarah, kaisar memeriksa makam-makam yang ada di desa dan menemukan makam-makam yang belum dibesihkan serta tidak diberi tanda. Kemudian kaisar menziarahi makam-makam tersebut dengan berasumsi bahawa di antara makam-makam tersebut pastilah merupakan makam orangtua, sanak keluarga, dan leluhurnya. Hal ini kemudian dijadikan tradisi untuk setiap tahunnya.

Bakti kepada orang tua adalah dasar dari segala perbuatan. Yang paling utama adalah bakti saat orang tua masih hidup yaitu dengan berusaha membalas jerih payah mereka membersearkan kita. Saat orang tua telah meninggal dunia, kita mengenang dan mengingat kembali budi-budi mereka dan sekuat tenaga membalasanya.

Sumber: http://dongeng.org/cerita-rakyat/tiongkok/asal-mula-cheng-beng.html

Asal Mula :Cheng Beng,Ceng Beng

Posted in Asal Mula || 1 Comment »